JUMAT (22/5) pagi pekan lalu, kantor baru saja hendak beroperasi, datanglah seorang lady biker ke kantor saya. Ia dari rumah, di Petukangan, menuju kantornya di Matraman. Seminggu rata-rata 3 kali gowes to work, dan pagi itu sepedanya kena masalah. Tidak ingin terganggu masuk kerja, kebetulan ia pernah mendapat info dari seseorang… yg lalu entah bagaimana pangkal mulanya, hingga output di ujungnya bisa berbunyi menjadi:
“Mau ketemu sama orang bengkel sepedanya, Mbak… Pak Nugroho namanya.”
Urutan registry di benak si penerima tamu adalah:
1. Apakah betul ada bengkel sepeda di Palmerah Selatan
2. Bila pun ada, apakah betul tukang bengkel sepedanya bernama Nugroho
3. Bila pun si tukang bengkel sepeda bernama Nugroho, apakah ini “Nugroho” yg “Nugroho” boss-nya.
Hasilnya, in total:
Tidak ada bengkel sepeda di Palmerah Selatan, dan “Nugroho” terdekat yg dikenal selama ini paling tidak memang tidak pernah mengaku kalau (juga) berprofesi sebagai tukang/pemilik bengkel sepeda.
Tapi lha wong secara aturan kerja yg namanya tamu harus mendapat pelayanan selayak-layaknya, maka sang Lady Biker pun diminta menunggu sebentar sementara pertolongan darurat dicarikan agar ia tidak harus sampai bolos kerja. Tentu saja ia jadi tersipu tidak enak karena sudah serius menganggap “ada bengkel di Palmerah Selatan, yg pemiliknya bernama Pak Nugroho”.
Sayangnya, mungkin karena kesibukan kerja, kisah ini baru bisa disampaikan kepada Nugroho Himself di hari Senin kemudiannya.
Tidak ada foto dokumentasi — apalagi yg bernilai jurnalistik — dijepretkan Jumat pagi itu. Tapi kisah ini nyata. Bukan fiksi. :))
TERNYATA sepedaan pagi-pagi banget terbukti lebih cepat. Hari masih gelap, sekitar pukul 05.30 start gowes hanya sekitar 50 menit saja sudah tiba di pelataran kantor. Biasanya sejarak 27 kilometeran itu ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menitan. Cuma memang perjalanan Minggu (17/5) pagi tadi lewat jalan depan alias Ciputat-LebakBulus- Kebayoran Lama. Biasanya, sih lewat Bukit Dago Tol-Jl Merpati-Jl Kompas- Pengairan-Bintaro Tanah Kusir. Pagi hari juga udara agak lebih bersih dan segar, dan lalu lintas masih lengang..
Sengaja berangkat pagi, ceritany mau ikutan survey buat funbike ulang tahun Kompas, Juni mendatang. Kali ini KGC kembali mendapat tugas menyelenggarakan funbike. Sudah terbukti kok, beberapa kali KGC bikin kegiatan serupa dan sukses-sukses saja. (Dan yang jelas, bisa menghemat banyak alias gak muahal… ha..ha). Seringkali kita malah mikir, kalau ada pihak di luar kantor ngajak kita untuk bikin funbike, bisa saja kita tangani ha..ha. Bukan untuk tujuan komerasial tentu. Tidak pantas ya rasanya kalau memanfaatkan komunitas untuk kepentingan komersial. Jadi ya untuk tujuan sosial dan memperlebar persaudaraan penyepeda saja. Sekalian memasyarakatkan sepeda dan menyepedahkan masyarakat… lha? (Slogan Orba Mode: ON) Read the rest of this entry »
SEPEDA dikenal sebagai pesawat transportasi paling sederhana. Teknologinya tentu sudah sangat maju. Tetapi, canggih atau onthel, sepedaan itu ya sama saja digowes, diboseh atau dikayuh. Dari anak ingusan sampai aki-aki semua bisa melakukannya. Namun, ternyata ada juga ilmu bagaimana bersepeda dengan benar. Bagaimana agar bersepeda itu aman, dan tenaga yang dikeluarkan optimal, sebanding dengan kecepatan atau kekuatan nyepeda.
Walaupun dikenal sebagai alat transportasi sederhana, ada cara pula untuk memeliharanya. Enggak sayang barang, dan jahat banget jika sepeda hanya diperkosa setiap akhir pekan. Tetapi setelah itu teronggok di garasi atau di halaman rumah. Sepeda harus dianggap kekasih– kekasih gelap atau terang terserah. Dia harus diurus, disayang, diperhatikan sepenuh hati, hingga dielus-elus. Badan dan kelengkapannya harus dikenal, cara kerja dan cara memperlakukannya. Read the rest of this entry »
KAMIS (30/4) magrib, saya ditelepon teman dari depan BBJ. “Kang aku udah di depan BBJ, parkir di mana ya?” katanya. “Masuk aja ke BBJ, pintu kanan depan Gedung Humas. Tuh di situ disediakan parkir sepeda,” kata saya.
Malam itu memang akan ada pertunjukan band GiGi di depan BBJ. Jadi teman-teman dari Rosela itu menyempatkan datang bersepeda.
Rada bangga juga rasanya bisa menunjukan tempat parkir sepeda. Di depan Gedung Humas itu memang biasa saya dan beberapa teman parkir sepeda. Ada beberapa rak parkiran — 3 jajar kalo enggak salah. Sisa rak malah masih ditumpuk di bawah pohon untuk menampung parkir sepeda jika dibutuhkan lebih banyak.(Kalau pas lagi rame sepedaan lumayan juga penuh sepeda parkir si situ. Belum lagi ada yang udah ngecup dengan kunci sepeda dipasang di rak parkir) Read the rest of this entry »
Pagi tadi, eh… kemarin ding, ada pesan YM masuk! Parkiran penuh, Cak! Woooo…..mantap! Kalo penuh artinya 12 orang hari ini bersepeda ke kantor. Masih kecil sih dibanding jumlah karyawan. Hanya sekitar 1 persen. Tapi yang menggembirakan, kemarin hari Selasa. Bukan Jumat yang secara tradisi jadi “Hari Sepeda”. Kalo Selasa saja penuh, bagaimana jadinya parkir di hari Jumat nanti ya?
Pertumbuhan sepeda di kantor belakangan ini memang sangat pesat. Hampir tiap pekan ada saja karyawan yang beli sepeda. Hari Minggu lalu saya liat sendiri, dua karyawan Pracetak membawa seli kembar, gres. Di kesempatan yang sama, fotografer Idea juga memamerkan Dahon anyarnya. Bahkan denger-2 dia borong dua sepeda sekaligus! Nah, kalo ditotal pehobi sepeda di kantor bisa mencapai 30 an lebih. Read the rest of this entry »

Peta Bike to Fun-Tastic
19 April 2009

Pendaftaran dibuka
mulai 6 April 2009
Pengambilan Kaus
pada 14-18 April 2009 di tempat Anda membeli tiket
Start-Finish
Sunday Market, Ancol
19 April 2009
Pukul 07.00 WIB Read the rest of this entry »
Seli alias sepeda lipat sedang memikat hati. Paling tidak bagi para anggota komunitas sepeda Gramedia Majalah (KGC Cabang Panjang) di Kebon Jeruk. Terbukti, rencana tur dari candi ke candi ke Jawa trengah dan Yogyakarta yang awalnya dengan sepeda apa saja, berubah jadi ekspedisi khusus seli.Yes!
Sudah terbayang iring-iringan rombongan “sepeda sirkus” ini pasti akan menjadi pusat perhatian warga Yogya. Belum lagi membawa seli akan lebih mudah dibanding harus menenteng sepeda MTB. Toh trek ekspedisi ini kali lebih banyak “ngaspal”.
Ups… jangan senang dulu. Perubahan ini justru bikin panitia kecil harus memutar otak. Bagaimana tidak, ternyata ada beberapa peserta yang sudah mendaftar belum punya sepeda lipat. Pinjam ke teman yang tak ikut? Itu memang jadi jalan ke luar. Hanya saja, selama ini sepeda lipet masih menjadi “barang pribadi” [yang kotor sedikit saja langsung dilap], jadi rasanya sulit pemilik akan melepas tunggangan pribadinya. Beruntung tiga peserta segera melakukan aksi “borong seli”. [salute untuk Imam Tadjudin aka Abi, Agus Surono aka Gussur, dan Muhammad Yana yang di detik-detik terakhir langsung melakukan aksi “borong Urbano.”] Tiga peserta yang belum punya seli tertutup dengan dua seli jadul milik Didi dan Cak Kris serta seli pinjaman dari teman Wisnu. Read the rest of this entry »