Senang dan bangga lihat perkebangan anggota KGC sekarang. Bukan hanya soal jumlah yang terus bertambah, motivasi untuk mengaktualkan diri lewat sepeda makin beragam.
Dulu sebagian besar teman2 KGC main sepeda sekadar hobi. Menyalurkan hobi biar sehat, tambah kawan, hemat (yang melakukan b2w ke kantor), dan juga sedikit memacu andrenalin.
Tak heran, kegiatan pun lebih banyak hura-hura. Ikut fun bike, ngoproad, kulineran setelah bubaran pabrik, atau gowes bareng ke kantor.
Karena kegiatan yang hura-hura itu, kalo toh mau ngoprod, pilihannya juga trek yang santai-santai saja. Pernah sih, beberapa anggota KGC ikut offroad yang treknya benar-benar menyiksa. Tapi biasanya lantaran jadi korban jebakan. Hahahahaha. Jadi inget trek Cijambe yang bikin tele-tele.
Tapi kini ceritanya lain lagi. Trek tanjakan seolah jadi trek favorit sebagian anggota KGC. Pondok Pemburu, Trek Sentul, salah satu contohnya. Entah berapa kali KGC punya hajat menaklukkan trek ini. Bahkan saat Jambore pun, diselipin acara nanjak ke Warung Bandrek, Bandung. Hebat!
Apakah nanti akan muncul aliran nanjak di KGC? Lihat saja. Yang jelas, trek nanjak memang bagus untuk melatih stamina, mengatur kekuatan dan yang penting, ada kepuasan tersendiri jika mampu melewati.
Ya, sebenarnya aliran nanjak bukan barang baru. Di Indonesia sudah ada komunitas 1PDN yang anggotanya memang penggowes yang doyan jalan nanjak. Dan ada kebanggan tersendiri bisa masuk di komunitas ini.
Selain pilihan trek yang tak lagi “mengharamkan” tanjakan, kini juga terlihat KGC mulai ambil bagian di setiap kompetisi. Diawali dari BSD Kriterium beberapa waktu lalu. Meski tak dapat nomor, tapi keikutsertaan beberapa anggota KGC ini cukup jadi pengalaman tersendiri.
Sentul Race juga jadi ajang salah satu anggota KGC. Ternyata di ajang ini KGC mulai bisa unjuk gigi. Target masuk 10 besar sudah tercapai, bahkan melampaui. Bisa jadi, prestasi Kang Gun ini jadi pengobar semangat teman-temannya ikut kompetisi.
Terbukti race di Delta Mas, yang ikut mulai bertambah. Sayang mereka harus bersaing dengan atlet sepeda kelas atas. Mungkin kalau ada kelas eksekutif, ceritanya bakal lain.
JPG Race mendatang bisa jadi akan jadi sarana unjuk gigi KGC berikutnya. Meski sampai saat ini belum kelihatan siapa saja yang mau berpartisipasi, tapi rasanya ada beberapa anggota KGC yang akan berlaga.
Ya, kini anggota KGC tak sekadar berhura-hura. Mereka juga ingin jadi jawara sepeda. Ya, itu tandanya KGC makin berkembang.
Para pelaku B2W tentu punya mimpi, Jakarta bunya bike line. Tapi kapan mimpi itu jadi kenyataan? Hmmmm…susah menjawabnya. Beberapa kali membaca berita soal bike line, saya makin pesimis pemerintah Jakarta akan memenuhi janjinya membuat bike line yang sejak dulu dituntut para karyawan bersepeda.
Ada saja dalih dari penguasa yang mengklaim dirinya ahli menata Jakarta. Mulai menunggu pesepeda sampai satu juta hingga alasan-alasan lain yang sebenarnya bertujuan untuk mengulur-ulur waktu hingga janji itu terlupakan. Kalau disediakan jalurnya dulu, pasti akan makin banyak pemakai transportasi ramah lingkungan ini. Wong tak ada jalurnya saja, makin lama makin banyak kok, yang ke kantor naik sepeda.
Mungkin bagi pemerintah kota, sepeda tak ada nilai ekonomisnya. Lantaran kereta angin ini tidak dikenai pajak yang bisa menambah kocek pendapatan negara. Kenapa mereka tidak berpikir terbalik ya? Berapa nilai yang dihemat jika ada satu karyawan bersepeda ke kantor, baik penghematan BBM, pengurangan polusi, dan biaya kesehatan? Tapi yang lebih penting, kalau kondisi Jakarta dibiarkan seperti sekarang ini, bisa dibayangkan, bagaimana lalu lintas Jakarta 5 tahun mendatang? Anda pasti bisa menebaknya.
Ya, peradaban kota Jakarta pelan-pelan telah dihancurkan. Mobil dan sepeda motor tak dibatasi. Pohon ditebang, Ruang Tata Hijau disulap jadi mall dengan dalih kebutuan mal di Jakarta masih kurang, makam dijadikan hotel, situ diurug, taman kota kian sempit. Jalur sepeda? silakan cari di hutan saja……
Pagi tadi, eh… kemarin ding, ada pesan YM masuk! Parkiran penuh, Cak! Woooo…..mantap! Kalo penuh artinya 12 orang hari ini bersepeda ke kantor. Masih kecil sih dibanding jumlah karyawan. Hanya sekitar 1 persen. Tapi yang menggembirakan, kemarin hari Selasa. Bukan Jumat yang secara tradisi jadi “Hari Sepeda”. Kalo Selasa saja penuh, bagaimana jadinya parkir di hari Jumat nanti ya?
Pertumbuhan sepeda di kantor belakangan ini memang sangat pesat. Hampir tiap pekan ada saja karyawan yang beli sepeda. Hari Minggu lalu saya liat sendiri, dua karyawan Pracetak membawa seli kembar, gres. Di kesempatan yang sama, fotografer Idea juga memamerkan Dahon anyarnya. Bahkan denger-2 dia borong dua sepeda sekaligus! Nah, kalo ditotal pehobi sepeda di kantor bisa mencapai 30 an lebih. Read the rest of this entry »
Seli alias sepeda lipat sedang memikat hati. Paling tidak bagi para anggota komunitas sepeda Gramedia Majalah (KGC Cabang Panjang) di Kebon Jeruk. Terbukti, rencana tur dari candi ke candi ke Jawa trengah dan Yogyakarta yang awalnya dengan sepeda apa saja, berubah jadi ekspedisi khusus seli.Yes!
Sudah terbayang iring-iringan rombongan “sepeda sirkus” ini pasti akan menjadi pusat perhatian warga Yogya. Belum lagi membawa seli akan lebih mudah dibanding harus menenteng sepeda MTB. Toh trek ekspedisi ini kali lebih banyak “ngaspal”.
Ups… jangan senang dulu. Perubahan ini justru bikin panitia kecil harus memutar otak. Bagaimana tidak, ternyata ada beberapa peserta yang sudah mendaftar belum punya sepeda lipat. Pinjam ke teman yang tak ikut? Itu memang jadi jalan ke luar. Hanya saja, selama ini sepeda lipet masih menjadi “barang pribadi” [yang kotor sedikit saja langsung dilap], jadi rasanya sulit pemilik akan melepas tunggangan pribadinya. Beruntung tiga peserta segera melakukan aksi “borong seli”. [salute untuk Imam Tadjudin aka Abi, Agus Surono aka Gussur, dan Muhammad Yana yang di detik-detik terakhir langsung melakukan aksi “borong Urbano.”] Tiga peserta yang belum punya seli tertutup dengan dua seli jadul milik Didi dan Cak Kris serta seli pinjaman dari teman Wisnu. Read the rest of this entry »
Ada-ada saja penampilan peserta Fun Bike Green Festival. Mereka tak cukup mengenakan kaos yang diberikan panitia, tetapi harus tampil beda, biar mendapat perhatian peserta.
Lihat saja penampilan H. Abdullah. Ia tak cukup dengan sepeda kayunya. Dadanannya ala pakaian Jawa sangat menyita perhatian. Tak cukup dengan itu, ia juga membawa terompet, borgol, dan botol dot untuk minum.
Orang Irian rupanya tak mau kalah. Ada juga peserta yang mengenakan koteka. Entahlah bagaimana cara ia bersepada. Yang jelas, pria itu dipergoki saat mengantre makanan di kantin. Semula ia tampak kebingungan memilih makanan yang bakal di santap. Ahhirnya terpilih makanan tradisional.Yang jelas makanan itu bukan dari Irian.
Siapa yang paling berbahagia saat Fun Bike Green Festival? Salah satunya adalah Nining. Maklum, sekretaris KGC yang juga punya jabatan rangkap-rangkap di komunitas sepeda Kompas Gramedia ini hari itu pas ulang tahun. Entah ulang tahun yang keberapa.
Sebenarnya, setelah peserta memasuki finish dan panitia sibuk membentuk barisan barikade di depan panggung, satu-dua orang anggota KGC sudah menyalami gadis berjilbab ini. Namun “pesta” baru dimulai setelah Nirwana menyodorkan cake lengkap dengan lilin sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
Teriakan Nirwana seakan menjadi aba-aba. Beberapa anggota KGC dan B2W pun akhirnya menyanyi bersama untuk Nining. Usai menipun lilin, Nining langsung ramai-ramai diguyur air. Dengan berkelakar, Nining beteriak bahwa acara Fun Bike Gren Fest ini menumpang pesta ulang tahunnya. Kabarnya, sih masih ada rangkaian pesta yang bakal digelar. Selamat Ultah Ning. Panjang Umur dan Cepet dapat…. Titus :))
Jika Nining Bahagia, ada anggota KGC yang ketimpa musibah. Reza yang selama acara fun bike rajin memotret teman-temannya kehilangan handphone yang terselip di pinggannya. Yah…. rupanya ada tangan jahil yang berhasil mengambil handphone Reza. Mudah-mudahan segera dapat yang lebih bagus.