Pagi tadi, eh… kemarin ding, ada pesan YM masuk! Parkiran penuh, Cak! Woooo…..mantap! Kalo penuh artinya 12 orang hari ini bersepeda ke kantor. Masih kecil sih dibanding jumlah karyawan. Hanya sekitar 1 persen. Tapi yang menggembirakan, kemarin hari Selasa. Bukan Jumat yang secara tradisi jadi “Hari Sepeda”. Kalo Selasa saja penuh, bagaimana jadinya parkir di hari Jumat nanti ya?
Pertumbuhan sepeda di kantor belakangan ini memang sangat pesat. Hampir tiap pekan ada saja karyawan yang beli sepeda. Hari Minggu lalu saya liat sendiri, dua karyawan Pracetak membawa seli kembar, gres. Di kesempatan yang sama, fotografer Idea juga memamerkan Dahon anyarnya. Bahkan denger-2 dia borong dua sepeda sekaligus! Nah, kalo ditotal pehobi sepeda di kantor bisa mencapai 30 an lebih. Read the rest of this entry »
Seli alias sepeda lipat sedang memikat hati. Paling tidak bagi para anggota komunitas sepeda Gramedia Majalah (KGC Cabang Panjang) di Kebon Jeruk. Terbukti, rencana tur dari candi ke candi ke Jawa trengah dan Yogyakarta yang awalnya dengan sepeda apa saja, berubah jadi ekspedisi khusus seli.Yes!
Sudah terbayang iring-iringan rombongan “sepeda sirkus” ini pasti akan menjadi pusat perhatian warga Yogya. Belum lagi membawa seli akan lebih mudah dibanding harus menenteng sepeda MTB. Toh trek ekspedisi ini kali lebih banyak “ngaspal”.
Ups… jangan senang dulu. Perubahan ini justru bikin panitia kecil harus memutar otak. Bagaimana tidak, ternyata ada beberapa peserta yang sudah mendaftar belum punya sepeda lipat. Pinjam ke teman yang tak ikut? Itu memang jadi jalan ke luar. Hanya saja, selama ini sepeda lipet masih menjadi “barang pribadi” [yang kotor sedikit saja langsung dilap], jadi rasanya sulit pemilik akan melepas tunggangan pribadinya. Beruntung tiga peserta segera melakukan aksi “borong seli”. [salute untuk Imam Tadjudin aka Abi, Agus Surono aka Gussur, dan Muhammad Yana yang di detik-detik terakhir langsung melakukan aksi “borong Urbano.”] Tiga peserta yang belum punya seli tertutup dengan dua seli jadul milik Didi dan Cak Kris serta seli pinjaman dari teman Wisnu. Read the rest of this entry »
Ada-ada saja penampilan peserta Fun Bike Green Festival. Mereka tak cukup mengenakan kaos yang diberikan panitia, tetapi harus tampil beda, biar mendapat perhatian peserta.
Lihat saja penampilan H. Abdullah. Ia tak cukup dengan sepeda kayunya. Dadanannya ala pakaian Jawa sangat menyita perhatian. Tak cukup dengan itu, ia juga membawa terompet, borgol, dan botol dot untuk minum.
Orang Irian rupanya tak mau kalah. Ada juga peserta yang mengenakan koteka. Entahlah bagaimana cara ia bersepada. Yang jelas, pria itu dipergoki saat mengantre makanan di kantin. Semula ia tampak kebingungan memilih makanan yang bakal di santap. Ahhirnya terpilih makanan tradisional.Yang jelas makanan itu bukan dari Irian.
Siapa yang paling berbahagia saat Fun Bike Green Festival? Salah satunya adalah Nining. Maklum, sekretaris KGC yang juga punya jabatan rangkap-rangkap di komunitas sepeda Kompas Gramedia ini hari itu pas ulang tahun. Entah ulang tahun yang keberapa.
Sebenarnya, setelah peserta memasuki finish dan panitia sibuk membentuk barisan barikade di depan panggung, satu-dua orang anggota KGC sudah menyalami gadis berjilbab ini. Namun “pesta” baru dimulai setelah Nirwana menyodorkan cake lengkap dengan lilin sambil menyanyikan lagu ulang tahun.
Teriakan Nirwana seakan menjadi aba-aba. Beberapa anggota KGC dan B2W pun akhirnya menyanyi bersama untuk Nining. Usai menipun lilin, Nining langsung ramai-ramai diguyur air. Dengan berkelakar, Nining beteriak bahwa acara Fun Bike Gren Fest ini menumpang pesta ulang tahunnya. Kabarnya, sih masih ada rangkaian pesta yang bakal digelar. Selamat Ultah Ning. Panjang Umur dan Cepet dapat…. Titus :))
Jika Nining Bahagia, ada anggota KGC yang ketimpa musibah. Reza yang selama acara fun bike rajin memotret teman-temannya kehilangan handphone yang terselip di pinggannya. Yah…. rupanya ada tangan jahil yang berhasil mengambil handphone Reza. Mudah-mudahan segera dapat yang lebih bagus.
H. Abdulah ingin kembali ke masa lalu. Dengan pakaian Jawa \, lengkap dengan keris dan kuluk-nya, pria muraha senyum yang berpenampilan nyentrik ini mengayuh sepeda dari kayu. Ya, sebagaian besar komponen terbuat dari kayu. Kecuali tentu hub, rantai dan gear.
Penampilan H. Abdullah memang menarik perhatian peserta Fun Bike Green Festival. Apalagi setelah MC meminta pria itu atraksi di depan panggung dengan sepeda antiknya. Atraksi ini cukup menghibur, bukan hanya karena sepeda H. Abdulah, tetapi juga karena tingkahnya yang unik serta properti yang dibawa, mulai dari borgol, terompet sampai dot.
Beberapa fotografer dadakan pun langung mengabadikan pemandangan unik ini.
Menristek Kusmayanto Kadiman dan Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar ikut bergabung bersama 2000 lebih peserta Fun Bike Green Festival, Minggu (20/4) lalu, peserta dilepas oleh Ny. Rahmat Wiloelar, tepat pukul 07.00 WIB.
Seperti rencana setelah bendera dikibarkan, rombongan ini diawali oleh tim 18 yang terdiri dari anggota KGC dan B2W. Di belakangnya, rombongan VIP yang dikawal oleh Ketua Umum B2W Toto Soegito dan Ketua KGC, Agung Hartanto beerta panitia lainnya. Di belakang rombongan VIP baru para peserta dari beragam komunitas sepeda.
Rupanya, banyak peserta yang tidak sabar, ingin mengowes lebih kencang dari yang direncanakan. Apalagi setelah Pak Rachmat Witoelar memilih keluar rombongan di Seputar Senayan, lantaran ada acara lain. Dengan beragam bebunyian, beberapa peserta merangsek tim 18 yang membentuk formasi “pesawat siluman” untuk mengowes lebih kencang.
Ketika tamu VIP makin terdesak peserta, panitia langsung mengamankan ke dalam lingkaran tim 18. Dan laju rombongan bisa lebih konstan, sesuai rencana hingga garis finish.
