Sudah lama, KGC berencana offroad bersama sebagai pembuka tahun 2010. Namun karena KGCers–yang jujur, baik hati dan tidak sombong– sangatlah susah mencari waktu, saking rajinnya bekerja. Akhirnya, dengan niat baik jadi juga kami ber-17 orang berangkat untuk mencumbui trek Telagawarna-Curugpanjang yang katanya menyenangkan itu.Begitulah, kami berangkat bersama dari Palmerah Jakarta Pusat. Sepeda diangkut dengan truk ekspedisi dan penumpangnya saling menumpuk di kendaraan yang ada. Prama, rekan KGC, berjanji bertemu di Sarimande, mulut tol Ciawi.
Sampai di lokasi sudah termasuk telat sebab kena macet sebelum pasar Cisarua. Setelah loading dan ngrakit sepeda, 17 KGCers berdoa dipimpin Abah Ush. Track aspal menanjak langsung menyambut kami. Fami — KGCers multitaskingman: mekanik, RC maupun sweeper– menjadi RCsampai SD Cikoneng.
Namun sebelum ngetreck, ada sebagian peserta yang mencuri start dengan melakukan pemanasan dengan berjalan kaki sebelum sampai gerbang Telaga Warna. Entahlah, mengapa mereka melakukan pemanasandg berjalan kaki sekitar 600 m sebelum titik start. tapi cuaca memang dingin banget.
Rintik hujan dan kabut menyelimuti kawasan puncak. “Mereka membayar di luar ongkos yang disepakati,” kata si sopir angkot. Namun setelah dikonfirmasi kepada Dewan Syuro KGC, tidak begitu kejadiannya. “Sopir angkot berlangak bensinnya habis dan mobilnya berhenti,” klata Cak Kris. Ya, iyalah enggak ada bensin mana bisa mesinnya hidup. Diduga itu modus si angkot juga mengingat, jalanan menuju Puncak sangat macet… he..he
Kembali ke trek: Menuju SD Cikoneng ternyata sepeda Ketua Dewan Syuro mengalami masalah. RDnya kesrimpet ranting dan jadi bengkok di sana- sini.
Diduga hal ini karena terkena tulang gara-gara ngetawain Abah Ush yang terpeleset saat gowes di turunan.Padahal yang bersangkutan sedang mendemokan bagaimana, terpeleset yang baik dan aman….Diperlukan dua mekanik– Fami dan Cakung (atlet n mekanik Giant) untuk membulkan kerusakan yang nyaris mustahil diperbaiki itu.
Di pertigaan sebelum SD Cikoneng fami ambil jalan keliru. ini kayaknya gara-gara Kang Gun gak ikut. Lha, apa hubungannya? cari ndirilah
(Lihat Lost in Cikole). Namun kabut yang luar biasa tebal serta hujan gerimis memang menyulitkan pandangan. Jarak pandang paling jauh sekilar 10-15 meter saja.
Di SD isi bbm dulu sambil betulin sepeda Cak Kris. Sebanyak 13 mangkuk indomie rebus dan telor habis disikat 12 penggowes. lo, ada yang dobel ya?
siapa dia?
S
elepas SD dimanjakan dg jalan turunan makadam. wah, bersorak-sorailah yang bawa fullsus. Kabut masih pekat dan jarak pandang makin
berkurangm seperti gowes di negeri di awan.
Masuk hutan pinus jalan masih makadam. sesekali melintas sungai kecil yang langsung membersihkan ban kami. Kalau kami sendiri dah bersih karena kehujanan. Selepas hutan pinus masih turunan tapi sudah beraspal. Meski berselang-seling dengan jalan batu runcing yang membuat ban Kevin bocor.
Di jalan arah Curug Panjang sempat berdiskusi apakah mau ambil jalan seperti di track apa balik ke jalan puncak raya. Hujan semakin lebat dan hari sudah sore, sekitar pukul 15.30-an. Apalagi, saran tukang ojek yang mengingatkan jika terus menggowes bisa menjelang gelap tiba di Curugpanjang. Keputusan diambil untuk segera turun ke Sarimande. Tentu saja, keputusan itu disambut sorak sorai para KGCers yang staminanya sudah ngedrop sehingga untuk bicara saja sudah enggak mampu…. ha..ha lebay. Ada juga yang beralasan tidak perlu ke Curugpanjang karena sepanjang Telagawarga–Curugpanjang, sudah menemui dua air terjun pendek-pendek. “Dua curug pendek-pendek itu kan kalau dijumlahkan jadi panjang juga.” kata seorang KGCers menganalisa.
Kami pun langsung ambil jalur masuk ke jalan Puncak Raya, tak jauh dari jembatan pertigaan Gunung Geulis Golf & resort. Terus menurun di antara mobil-mobil orang Jakarta yang enggak pernah kapok bermacetria di jalan puncak setiap akhir pekan.
Turun sampai Gadog lalu mlipir di pinggir tol depan Kampus Danamon rombongan pun tiba di parkiran Sarimande sekitar pukul 4 lewat. Ganjel indomie sudah hilang dan segera memesan makan di foodcourt Sarimande. Lumayan masih ada nasi goreng ayam dan soto betawi…
(Agus “gsr: Surono,)
*space dah habis*
Offroad yg mantepp untuk diulang kembali, apalagi krn gowesnya kurang lengkap tanpa Kang Gun. Ditambah lagi trecknya gak tuntas dilahap goweser KGC.
balik yukkk…. maksudnya bukan balik lagi ke trek itu, tapi treknya dibalik….he….he….