AHIRNYA, Sabtu (26/12) terkumpul juga enam KGCers di Jalur Pipa Gas alias JPG: saya Gusur, Cak Kris, Dimas, Krisna, Gun, Yusri, dan Gusur plus dua teman Cak Kris.
Jam 7 pagi lempeng dikit, kami meninggalkan Mpok Cafe menuju trek legendaris: Cihuni. Sudah beberapa kali, kami ke trek ini, dan tidak pernah bosan untuk mendatanginya. Apalagi trek ini mudah dijangkau dari mana pun. Biasanya goweser, berkumpul dulu di Mpok Cafe sebagai meeting point. Ada juga yang pemanasan dulu di trek JPG. Nah, dari sini selanjutnya kita bisa meneruskan perjalanan ke trek Cihuni menjelang siangan dikit.
Sabtu pagi kemarin, cuaca sangat mendukung sehingga gowesan RC - Krisna dan Dimas - amatlahkenceng. Alhasil saya pun enggak bisa motret-motret aksi mereka dengan leluasa. Saking kencengnya, kamera saya tidak sempat menangkap gerakan mereka. Wusss…..menembus jalan Serpong yang ada tugu BSD menuju ke gethek. Lhaa… ???*(&^… Sayang, tidak sempat dikonfirmasi, apakahkencengnya gowesaan mereka itu karena kebelet ingin naik gethek, ibarat anak-anak di kampung kebelet naeuik odhong-odhong….:)
Seperti juga JPG, trek Cihuni memang segela tinggal menjadi kenangan. Proyek perumahan segera menggerus salah satu trek favorit goweser Jabodetabek dan sekitarnya.
Gethek pun menyeberangkan kami melintasi Sungan Cisadane yang sepertinya debitnya bertambah. Ya, iyalah, namanya juga musim hujan. Akan aneh jadinya, kalau musim hujan tetapi debit sungai menurun, iya kan?
Selepas gethek, campuran antara jalan tanah dan aspal mengelupas dan paving block
menemani kami menuju ke Hill 1. seperti yang banyak dibilang bahwa
trek cihuni sedang menghitung hari memang benar adanya. Krisna sempat
kaget waktu jalur yang dilewatinya tiba-tiba terpotong oleh proyek
perumahan. Kenikmatan bersepeda pun terganggu, karena kami terpaksa menuntun sepeda melewati tanah yang sedang
diratakan oleh pihak pengembang BSD.
Sempat terjadi insiden ban kempes kena ranjau paku di hutan –sepenggal hutan tepatnya - pinus.
Jika saya mencoba trek ini di awal-awal kenal sepeda saya yakin akan keteteran
melahap trek yang memiliki tiga bukit ini. Beruntung sudah diajari
bersepeda oleh KGCers yang baik hati, jujur, dan tidak sombong.
Makanya sempat kaget waktu Dimas memberi tahu Hill 1. Bayanganku bukit
yang jalannya menanjak berkelak-kelok dan panjang. Lha ini saya hampir putus asa mencari-cari kondangan. Apa kata isteri di rumah, niat bersepeda mencari tanjakan yang ada malah jalur kondangan. Bedanya, kali ini saya “kondangan” tetapi mekai jersey bukan baju batik.
Namun harus diakui toh suasana pedesaan masih terasa. ada hutan bambu, kebun rambutan, dan kerimbunan
pohon kecapi. jadi teringat dengan trek Nawit. Penduduk pun masih ramah,menjawab permisi jika kami melewati mereka. Kadang-kadang tampak juga para gadis bergegas di jalanan, mungkin mereka mau ke ITC atau mall sekitar BSD dan sekitarnya yng kini banyak dibangun.
Hill III sudah lama hilang, rata diperkosa bulldozer. Selanjutnya akan berubah menjadi perumahan yang tentu harganya ratusan juta rupiah atau milyar.
Selepas hill III ini biasanya orang rehat di Warung Aat. Di sana tersedia nasi uduk, atau teh jahe yang maknyus. Warung itu kini seperti berada di ujung jalan karena jalan di depannya sudah dibenteng oleh pihak pengembang BSD.
Jadi biker yang akan melanjutkan perjalanan harus kembali memutar memasuki kawasan perumahan mewah The Cove BSD.
Warung Aat ini menjadi tempat berkumpulnya komunitas pesepeda Cihuni dan bikers yang ngetrek di cihuni. sampai
sini waktu menunjukkan sekitar pukul 10.00 dengan total jarak 25 km.
D i warung ini dirembug pula rencana jambore KGC pada bulan Februari
2010. saking gayengnya, obrolan ini masih dilanjutkan di rumah Kang Gun ditemani segarnya buah durian.
Trek Cihuni menghitung hari rata dengan tanah,KGC menjemput hari menuju Jambore Riung Sedulur KGC bulan Februari mendatang…
by: gsr (+ditambah-tambahi dikit)