BUKAN diskusi baru lagi, jika soal parkiran sepeda di mall, hotel, tempat belanja, maupun perkantoran masih dianggap barang mewah.
Pengalaman Mas Nugroho dari KGC bisa jadi bukan pula yang pertama.
Jadi bagaimana Mas, pengalamanmu membawa sepeda ke sebuah hotel?
Begini ceritanya, :
“Tadi siang (16/9) saya dengar kabar dari Ketua B2W Mas Toto Sugito bahwa Menristek Pak KK sudah bicara dengan pemilik Hotel Mulia dan hasilnya adalah pihak Hotel Mulia akan membuatkan parkiran sepeda yang insya Allah diresmikan 4 Oktober 2009.. Saya tentu saja gembira betul dengan kabar itu… Mas Toto malah lewat SMS bilang kekecewaan yang lalu akan terbayar…
Semoga saja benar kabar itu… Apalagi hari Minggu lalu (15/9), saya lagi-lagi mendapat pengalaman kurang enak di hotel itu.. Hari Sabtu lalu saya bersama istri dan dua anak saya menginap di Hotel Mulia.
Dari segi lokasi, hotel itu strategis, karena Saya dan keluarga memang berniat gowes dan bermain-main di seputar Senayan..
Ketika datang ke hotel, saya membawa tiga sepeda di mobil, satu sepeda tandem dan dua sepeda lipat.. Sampai di depan lobby hotel, semua sepeda diturunkan bersama koper dan tas bawaan keluarga.. Koper dan tas saya bawa langsung ke kamar, sedangkan sepeda saya titipkan di tempat penitipan barang di depan lobby hotel.
Esok paginya, sehabis sarapan pagi, saya mengambil sepeda itu dari tempat penitipan.. Belasan petugas hotel yang ada di depan lobby ikut menyaksikan saya merakit sepeda lipat dan keluar meninggalkan lobby.. Tidak ada masalah.. Semuanya ramah.. Beberapa petugas malah sempat menyetop beberapa kendaraan, hanya agar kami bisa menyeberang ke Senayan dengan aman.. Kayak VIP lah… Wah sudah berubah rupanya sikap hotel ini, begitu saya pikir..
Setelah lelah bersepeda di seputar Senayan, dua jam kemudian saya dan keluarga kembali ke hotel melalui pintu masuk di sebelah lapangan tembak Sanayan.. Begitu masuk areal hotel, ternyata kami diteriaki oleh petugas keamanan. Istri saya terkejut karena petugas keamanan itu membentak kami dan menyapa kami dengan sebutan ”heh… mau kemana ini,.. sepeda gak boleh masuk.. Waduh jangan asal nyelonong masuk gitu pak… Gak boleh masuk pak, gak boleh”
Saya mencoba menjelaskan bahwa saya dan keluarga menginap di hotel itu. Petugas keamanan tetap tidak mengizinkan kami membawa masuk sepeda ke areal hote. ”Wah itu bukan urusan saya.. Saya cuma jaga pintu masuk. Pokoknya sepeda tidak boleh masuk apalagi melewati depan lobby hotel,” katanya.
Saya tanya, kalau memang sepeda tidak boleh masuk areal hotel, mengapa Sabtu saya diiperbolehkan menurunkan dan menitipkan sepeda dan membolehkan kami berangkat dari lobby hotel Minggu pagi.. Akhirnya, seperti kasus sebelumnya, saya pun terlibat perdebatan dengan petugas itu.. Karena kewalahan menanggapi saya dan istri, petugas keamanan itu lalu berkoordinasi lewat HT dengan pimpinannya.
Saya sempat mendengar pembicaraan antara petugas keamanan itu dengan komandannya lewat HT. Saya dengar si komandan memang melarang sepeda masuk areal hotel lewat depan.. Saya lalu diminta masuk lewat pintu masuk dari arah jalan arteri dan memarkir sepeda di tempat parkir sepeda motor yang letaknya jauh di pelataran belakang hotel. Saya menolak permintaan itu. Dari pengalaman sebelumnya saya tahu bahwa di Hotel Mulia, sepeda disamakan dengan sepeda motor
Saya bilang bahwa saya tidak bermaksud memarkir sepeda. Saya berniat kembali ke lobby hotel untuk kembali ke kamar dan menitipkan sepeda di tempat penitipan, agar lebih mudah dimasukkan ke mobil ketika kami checkout. Sebab mobil saya pun saya titipkan ke petugas vallet.
Karena tetap dilarang, akhirnya saya bilang begini “Pak, kalau memang tidak boleh membawa masuk sepeda, silakan anda saja yang memasukan semua sepeda ini ke mobil saya. Kunci mobilnya minta saja ke petugas vallet” . Petugas keamanan itu ternyata menolak permintaan itu. Saya akhirnya geram juga..”Jadi bapak maunya apa”…. Petugas keamanan itu minta waktu lagi berkooordinasi dengan sang komandan..
Akhirnya saya dengar suara sang komandan lagi lewat HT ”Ya sudah lah kasih masuk aja, tapi sepeda itu harus dititipkan ya, tidak boleh dibawa ke kamar”.. Saya kesal, tapi sekaligus geli juga dengar perintah si komandan. Buat apa juga saya bawa-bawa sepeda ke dalam kamar hotel… Akhirnya kami diizinkan membawa sepda ke depan lobby dani menitipkan sepeda itu ke petugas vallet, agar bisa dimasukkan ke dalam mobil.
Tampaknya yang dibutuhkan Hotel Mulia bukan hanya keramahan petugas keamanannya terhadap tamu, tapi juga kebijakan yang jelas soal akses buat pesepeda.. Kalau memang sepeda tidak boleh masuk ke lingkungan hotel, mestinya disampaikan saja ketika kami tiba di lobby hotel itu.. Rasanya, ketidakjelasan kebijakan itu lah yang membuahkan kebingungan petugas keamanan, ketika harus berhadapan dengan tamu pesepeda seperti saya..
Jadi semoga saja cerita Mas Toto segera terwujud.. Syukur-syukur hotel-hotel lain ikut menyusul. Saya belum bosan kok terus mencoba masuk ke kantor-kantor, hotel atau mal-mal dengan bersepeda.. Mau barengan ?”
dari fesbuknya Mas Nug
Bagus Mas !
Kita dukung usaha Mas Nug. Bersepeda sebagai gaya hidup sehat memang masih harus menempuh jalan panjang yang berliku.
Dan keberanian ngotot Mas Nug dan istri, semoga menambah semangat kita bersepeda, kapan saja dimana saja.