Seli alias sepeda lipat sedang memikat hati. Paling tidak bagi para anggota komunitas sepeda Gramedia Majalah (KGC Cabang Panjang) di Kebon Jeruk. Terbukti, rencana tur dari candi ke candi ke Jawa trengah dan Yogyakarta yang awalnya dengan sepeda apa saja, berubah jadi ekspedisi khusus seli.Yes!
Sudah terbayang iring-iringan rombongan “sepeda sirkus” ini pasti akan menjadi pusat perhatian warga Yogya. Belum lagi membawa seli akan lebih mudah dibanding harus menenteng sepeda MTB. Toh trek ekspedisi ini kali lebih banyak “ngaspal”.
Ups… jangan senang dulu. Perubahan ini justru bikin panitia kecil harus memutar otak. Bagaimana tidak, ternyata ada beberapa peserta yang sudah mendaftar belum punya sepeda lipat. Pinjam ke teman yang tak ikut? Itu memang jadi jalan ke luar. Hanya saja, selama ini sepeda lipet masih menjadi “barang pribadi” [yang kotor sedikit saja langsung dilap], jadi rasanya sulit pemilik akan melepas tunggangan pribadinya. Beruntung tiga peserta segera melakukan aksi “borong seli”. [salute untuk Imam Tadjudin aka Abi, Agus Surono aka Gussur, dan Muhammad Yana yang di detik-detik terakhir langsung melakukan aksi “borong Urbano.”] Tiga peserta yang belum punya seli tertutup dengan dua seli jadul milik Didi dan Cak Kris serta seli pinjaman dari teman Wisnu.
Rabu malam, pas gajian, mobil Elf yang disewa datang. Abi, Direktur Teknik KGC langsung sibuk melipat dan menata tunggangan. Bagasi Elf yang sebenarnya sangat lapang, ternyata masih kurang untuk mengangkut 9 seli beragam merek ini. Terpaksa tiga jok penumpang dilipat. Kenyamanan penumpang pun rada-rada terabaikan. Jok disisakan, pas penumpang. Setelah semua semua beres, rombongan ini dilepas oleh Fami yang kabarnya mewakili CEO KGC.
Ternyata bukan hanya kenyamanan yang dikorbankan, perjalanan menuju Yogyakarta pun lumayan tersendat. Maklum, kan, ada harpitnas. Jam 01.00 rombongan masih ngopi di Cipularang. Sudah terbayang, rencana etape pertama Borobudur bakal berantakan.
Kamis tengah hari, Elf baru masuk Purworejo. Panitia inti pun langsung ambil keputusan. Mobil tidak melanjutkan ke Yogyakarta, tapi diarahkan ke Borobudur. Rencananya, rombongan memang akan ke Yogya dulu. Setelah sejenak beberes, langsung menuju Borobudur dan mulai gowes. Karena berburu waktu, beberes dilakukan di Borobudur sekalian makan siang. Start dari pelataran Borobudur sekalian upacara “tedhak siti” sepeda Abi.
Dengan gagah dan berani [malu] 9 peserta [Abi, Astab, Yana, Gussur, Fredy, Cak Kris, Opiek, Simpatik, dan Endro] langsung mengowes tunggangannya ke loket. Iring-iringan ini langsung disambut muka masam para satpam. Mereka pun melarang kami masuk membawa sepeda. Yah…. semua peserta lemas seketika. Sudah lemes 15 jam di perjalanan, ditambah ditolak satpam pula. Upaya menego ke pengelola yang dilakukan Gussur juga tak membuahkan hasil. Boleh sih membawa aseli masuk candi, tapi harus bayar Rp 1,5 juta. Waksss…..!!! Sayang gak boleh dibayar pake daun! Foto seli dengan latar belakang candi Borobudur pun dilakukan di luar area wisata.
Etape berikutnya ke Candi Mendut. Perjalanan ke candi yang letaknya tak jauh dari Borobudur ini melalui jalan aspal. Mata yang sebenarnya sudah “sepet” mendadak berbinar begitu melihat pemandangan sawah dan perkampungan yang asri. Apalagi sapaan riang dari bocah-bocah kecil di sepanjang perjalanan. Entah apakah mereka takjub atau heran ada sepeda kecil yang dinaiki orang dewasa. Beberapa turis pun melirik ketika mereka berpapasan dengan rombongan “gowes cantik” ini. Di candi Mendut, kami bisa berpose semaunya.
Begitu juga di ketika rombongan tiba di Candi Pawon. Penjaga pun berdiam diri ketika kami “mengacak-acak” candi dengan beragam adegan foto narsis, yang sebenarnya sungguh memalukan jika itu dilakakan dalam kondisi “normal”. Apakah kegilaan ini efek dari mabuk perjalanan? Atau pengaruh negatif sepeda lipet? Mungkin bisa dua-duanya.
Yang pasti setelah kami puas berfoto-foto, mendung mulai menggantung di Muntilan. Bisa jadi ini sebuah “azab” dari kinara-kinari, makluk setengah manusia yang diabadikan dalam relief candi Pawon kepada sembilan pria “petakilan” peserta gowes ini. Lantaran cuaca mulai mengkhawatirkan, peserta pun segera meninggalkan candi yang konon sebagai tempat menyimpan senjata raja Indera yang bernama Vajranala.
Gowes menuju Yogya dipercepat. Sebelum sampai di jalan Magelang Yogya, peserta dihadang jalan lurus nan panjang dan sedikit miring. Angin pun bertiup kencang. Satu dua peserta mulai ngos-ngosan. Jurus dorong punggung pun mulai dikeluarkan. Pemandangan indah hamparan sawah dan bukit Menoreh seakan tak mampu memompa semangat gowes.
Byurrrrrrr….hujan deras muntah dari langit. Masing-masing peserta berpacu gowes untuk menyelamatkan diri. Tujuannya satu, menghampiri papan promosi restoran Sejuta Rasa dengan spesial sate kelinci dan oseng-oseng mercon. Dan wisata kuliner pun dimulai……….
[bersambung…..wis ngantuk]
Yah ternyata saya masih ngutang ya?
Kuliner pertama dimulai. Sate kelinci yang jadi menu spesial restoran bernama Sejuta Rasa ini langsung dipesan. Oseng-oseng Mercon juga masuk dalam daftar. Kecuali Gussur yang memang tak bisa makan pedas. Hanya dalam hitungan menit, semua hidangan tandas.
Konsep restoran ala lesehan mengoda iman. Hampir semua peserta langsung meluruskan punggung setelah semua makanan masuk ke perut. Bahkan ada yang samar-samar terdengar mulai ngorok. Meski suara itu tertelan suara hujan.
Beruntung hujan tak lama. Perjalanan menuju Kota Muntilan pun bisa dilanjutkan. Seperti dininabobokan, jalan Muntilan-Yogya yang cenderung miring membuat perjalanan kami terasa nyaman. Ibaratnya, tanpa digowes pun sudah sampai ke tujuan.
Upsss… anehnya, ketika masuk Muntilan ada satu peserta yang kram! Tapi rasanya bukan kram akibat kecepean genjot, tetapi karena semalaman kaki gak bisa diluruskan. Benar, kan Mas Endro? Astab memang pria yang sigap. Ia pun langsung memijit kaki Mas Endro. Belakangan kami baru tahu, ternyata ia dulu pernah jadi tukang pijit, berijazah pula. Sementara yang lain sibuk mencari balsem. Maklum, obat-obatan ada di tas rombongan depan.
Mas Endro diberi kesempatan ngaso. Fredy mulai berulah. Ia pun ikut-ikutan duduk di trotoar sambil senyum-2. “Mana bisa kalau di Jakarta kita duduk-duduk di trotoar kayak gini, ya Cak. Pasti orang akan mengira ‘orang gila.” Hmmm…saya pun mengiyakan. Ya kalo di sini, tidak diteriakin orang gila, tapi “wong edan”, batinku. Ini di Jawa, Fred… bukan di jakarta. :))
Rupanya rombongan depan (Gusuur, Yana, dan Opik) sudah jalan duluan. Ketika rombongan belakang mampir di Monjali, rombongan depan sudah sampai Hotel Borobudur di Jalan Magelang. Ya, sudah, akhirnya kami sepakat ketemu saja di Tugu. Dari Tugu, kami menuju ke Bakmi Kadin.
Bersambung lagi….