Menaklukkan tantangan medan off road, perlu persiapkan mental, ketrampilan, dan strategi tepat. Meski anggota GC masih pemula, ternyata kita bisa!
Bagi sebagian pegowes di seputar Jakarta, track Jalur Pipa Gas alias JPG menjadi “beranda” jika ingin menekuni hobi ber-off road ria pakai sepeda. Artinya, cobalah dulu track JPG sebelum menjajal track-track lainnya.
Dari segi lokasi, track garuk tanah ini tak jauh dari ibu kota. Tepatnya di desa Lengkong Gudang Timur, Jombang, Tanggerang. Lokasi ini dihimpit antara Bintaro Sektor 9 dengan BSD. Jalan paling gampang menuju ke lokasi, masuk lewat jalan samping Polsek BSD.
Dari segi pemandangan, track JPG sangat variasi. Goweser bisa membelah kebun, rumpun bambu, perkampungan, melintas di pematang sawah dengan pemandangan yang benar-benar alam pedesaan. Tantangan juga sangat lengkap. Tanjakan dan turunan ada, dari yang biasa sampai ekstrem. Tapi goweser juga punya pilihan ”jalur wisata”. Ibarat sebuah tempat makan, JPG itu pujasera, pusat jajan serba ada.
Tak heran di awal tahun 2007 Kompas Gramedia Cyclist (GC) mengawali kegiatannya menjajal track dengan tipe cross country ini. Lewat obrolan di milis, disepakati team akan berangkat Minggu, 14 Januari 2007. Kegiatan ini sekalian menjadi ajang pemanasan, karena pada 27 Januari 2007 akan melakukan off road dengan medan yang cukup berat yakni di Citatih, Sukabumi.
Tak menyangka, ternyata antusias menjajal track ini cukup besar. Dari percetakan diwakili oleh 5 orang, Agung Hartanta , Fami Ywaningtyas, Agung Pramanto, Hari Wardjono (Wa Dirkel 1 Percetakan), Weliam Suwadi. Sementara KCM mengirim dua utusannya, Wisnubrata dan Erlangga Djumena. Awak Majalah CHIP yang juga belakangan ini banyak yang bersepeda ke kantor juga mengirimkan dua jagoan gowesnya, Gusdiharto Pratomo, Dedy Irvan. Dari Elexmedia, Kompas dan NOVA, diwakili oleh Joseph Laksono, Poerwoko, dan Cak Kris. Rombongan ini diramaikan pula oleh Kevin, junior Agung Hartanto yang nyalinya mengalahkan sang ayah.
Rombongan yang terdiri dari 13 orang ini dikomandani Agung Hartanto. Pria jangkung ini secara aklamasi dinobatkan menjadi kepala suku KGC. Ya, AH, begitu ia disapa memang menjadi rombongan yang paling familiar terhadap track ini selain Fami dan Agung Pramanto. Maka tak heran selama perjalanan AH selalu menjadi ”pembuka jalan”.
Team ”Pemburu Turunan & Tanjakan” mulai ’masuk’ jalur JPG pukul 09.00, saat rombongan lain sudah leyeh-leyeh di warung ketan alias Mpok Cafe yang menjadi start maupun finish track JPG. Datang kesiangan ada plus-minusnya. Minus-nya, matahari mulai menyengat, sementara plus, karena rombongan ini rombongan pamungkas, maka kita bisa santai-santai, tanpa terganggu atau takut disusul rombongan di belakangnya. Makanya, punya banyak kesempatan istirahat dan foto-foto.
Menyelesaikan etape pertama, hanya di Turunan Sumur yang membuat rombongan ini menghitung ”kancing baju”, apakah sepeda mau dinaiki atau dituntun. Tapi setelah AH, Mas Hari, Purwoko dll sukses meluncur, yang lain pun seperti mendapat semangat.
Begitu juga di turunan S yang menjadi ujian berat di etape kedua. Semua sukses melewatinya, meski sesaat para peserta harus mempelajari karakter turunan menikung dan tanjakan. Di episode ini hanya Fami yang sukses menaklukkan turunan maupun tanjakan, tanpa kaki menjejak tanah. Selamat Jeck!
Tantangan berikutnya ada di turunan dan tanjakan curam sedalam 5 meter. Ini dia yang sering dinamakan roller coaster. Mungkin karena takut ada yang guling-guling, sampai di lokasi ini AH langsung mem-brief semua anggota rombongan. ”Kalau sekiranya ada keraguan sedikit pun, sebaiknya jangan lewat jalur ini. Ada jalur alternatif di sisi kiri.”
Peserta makin ciut karena AH juga cerita di track ini sudah banyak makan korban. ”Banyak yang patah tulang. Makanya kalau ragu-ragu, sebaiknya jangan coba-coba, deh.” Tapi omongan AH ini langsung ditimpali Cak Kris. ”Kalau punya nyali dan yakin bisa sebaiknya dicoba. Rasanya belum mencoba JPG kalau belum melewati Roller Coaster ini.” ”Kompor” Cak Kris akhirnya makan korban. Setelah mengamati tipikal turunan maupun tanjakan, bukan hanya AH yang menjajal, tetapi juga Jo, Fami, dan Purwoko, dan tentu si penyulut kompor. Bahkan mas Pur, AH, Fami dua kali menjajalnya. AH yang semula mewanti-wanti Kevin agar tak melewati jalur ini akhirnya mengizinkan anaknya menjajal turunan ”maut” ini.
Ujian berikutnya di drop off menjadi tak berarti setelah rombongan ini berhasil melewati Roller Coaster. Setelah memotong jalan raya, rombongan melanjutkan ke track berikutnya dan akhirnya sampai di Mpok Cafe lagi.
Sambil menikmati jamuan makan siang yang “urusan administrasinya” diselesaikan Mas Hari di Warung Asem Betawi, Pondok Ranji,- yang mak yuss!tenan, para peserta pun mulai berbagi cerita menaklukkan tanjakan maupun turunan. Ya, memang harus ada strategi untuk bisa selamat (baca: tanpa cidera) ke luar dari track ini.
Untuk melewati turunan di JPG saja, banyak strategi yang harus dilakukan. Badan harus lebih condong ke belakang. Teknik pengereman roda depan-belakang harus seimbang. Dan yang unik, saat sepeda melaju kencang, kaki kita pun tak boleh diam menggenjot. Karena di depan sudah menghadang tanjakan curam. Jika kaki diam, bersiap-siaplah tidak sampai tujuan dan jungkir balik di turunan.
Kalau dipikir-pikir ternyata strategi itu berjalan seiring dengan strategi yang diterapkan dalam dunia kerja. Saat produk kita sedang diminati pasar, tetap saja kita tak boleh lengah apalagi berpangku tangan. Kita tetap harus kreatif menyetel posisi gigi agar saat turunan (baca: besar) kita tetap bisa lincah mengenjot tanpa ada enerji yang terbuang sehingga kita bisa sukses melewati tanjakan (baca: tantangan) di depan.
Jadi masuk menjadi anggota KGC bukan hanya menyalurkan hobi atau memburu badan bugar. Kita juga belajar strategi, sehingga mampu menentukan langkah yang tepat saat kita dihadang tantangan. Karena, dimanapun, Kita Harus Menang!