Gowes Bareng - Segarkan Kota Jakarta
Minggu , 25 Juli 2010
START, 06:30 WIB dari Gedung KOMPAS GRAMEDIA
Jl.Palmerah Selatan , Jakarta Pusat
FINISH, Plaza Timur Gelora Bung Karno
DOORPRIZE:
1 Unit Mobil Karimun Estillo
3 Unit Motor Suzuki Titan
LCD TV 32″
BLACKBERRY
LEMARI ES
MESIN CUCI
KAMERA POKET
20 UNIT SEPEDA POLYGON
35 TABUNGAN MANDIRI @500.000,-
500 TIKET NONTON DI XXI
1000 LANGGANAN KOMPAS
HARGA TIKET :
RP. 30.000
termasuk Kaos, Snack,
Teh Botol Sosro
Less Sugar
INFORMASI
(021) 2567 6000 & 0856 932 80363
PEMBELIAN TIKET
Rodalink Arteri Pondok Indah (021) 729 2456 Rodalink SCBD (021) 528 97011
Rodalink Kelapa Gading Square(021) 458 66224 Rodalink Margonda Raya (021) 752 1420
Rodalink Kalimalang (021) 888 54368 Rodalink Sudirman (021) 5289 7011
Rodajaya kebayoran lama (021) 726 5481 Rodajaya Meruya (021) 7077 1175
Rodajaya BSD (021) 538 7269 Yeriko (021) 809 7034 Speed Shop Kranji 0818 998154
Bu Wati - Monas 0856 7848471 Jaya Bike Ciputat (021) 708 94280
TB Gramedia Matraman (021) 858 1763 TB Gramedia Gajah Mada (021) 2601234
TB Gramedia Mal Kelapa Gading (021) 452 6986 TB Mal Pondok Indah (021) 750 6997
TB Gramedia Mal Ciputra (021) 568 1479 TB Gramedia Mega Mal Pluit (021) 668 3610
TB Gramedia Mal Puri Indah (021) 582 2524 TB Gramedia Plaza Semanggi (021) 255 39371
TB Gramedia Mal Taman Anggrek (021) 5699 9488 TB Gramedia Mal Teras Kota (021) 300 25701
TB Gramedia Supermal Karawaci (021) 547 5873 TB Gramedia Mal Metropolitan (021) 884 8611
TB Gramedia Botani Square (0251) 8400 730 Sirkulasi Kompas Gramedia - Fatmawati (021) 750 8933
Sirkulasi Kompas Gramedia - Bekasi (021) 885 3605 Sirkulasi Kompas Gramedia - Cikokol (021) 554 3109
Sirkulasi Kompas Gramedia - Gj. Mada (021) 260 1216
Eatape V, Solo-Yogyakarta
Etape fun bike. Ikut fun bike beneran dulu sekitar 15 km muter2 di kota solo. Brangkat jam 9.48. tiba di Jogja 1.30 siang setelah menempuh 65 km.
* Gussur
Setelah melalui 5 hari yang melelahkan, tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta akan beristirahat 1 hari di Yogyakarta. Selama berada di Yogyakarta, rangkaian kegiatan bersepeda tetap dilakukan seperti Night Ride bersama komunitas onthel di Yogyakarta pada minggu malam. Senin pagi akan diadakan pula kegiatan fun bike mengelilingi kota gudeg serta konser tiga gitaris Indonesia yang tergabung dalam kelompok Trisum (Dewa Budjana, Tohpati dan Balawan)
Pada etape ini, 10 selir (sepeda lipat ringkas) KGCyclist turut serta menemani sepanjang perjalanan dari Solo menuju Yogyakarta.
Etape IV, Pacitan-Solo
Etape 4 dari Pacitan ke Solo menjadi penghiburan tersendiri. meski baru 3,5 km dari Pacitan sudah disuguhi tanjakan namun berkat gemblengan tanjakan Trenggalek - Pacitan maka tanjakan landai sejauh sekitar 20 km tak begitu terasa. Jalanan relatif mulus dan sepi. Terlebih begitu masuk Wonogiri. Jalanan naik turun bersambung-sambung sampai tak terasa sudah 4 jam lebih nonstop gowes.
Akhirnya berhenti sebentar padahal RM Pak Glindhing di waduk Gajah Mungkur tinggal 3 km. Alhasil, makan siang pun agak molor. Jam 1 siang lebih. Selepas makan siang tim jadi “beringas”. kecepatan gowes bergoyang2 di angka 30 kpj.
Memasuki Solo dikawal onthel dan tiba di hotel Dana disambut dengan kalungan bandul wayang dan disuguhi srabi serta minuman kunyit yang seger. Total lebih dari 7 jam utk menempuh jarak 140 km.
*Gussur
Pada etape IV ini, beberapa selir (sepeda lipat ringkas) KGCyclist (Cak Kris, AH, Yana, Fredy, Chris Indra, Adrian & Alfa) menemani tim inti JSSJ dari waduk Gajah Mungkur ke Solo dan akan terus menemani sepanjang etape V Solo-Yogya (ditambah Martin & Abah Ush).
Etape III, Trenggalek-Pacitan
Tak hanya satu “neraka” yang tersaji di etape III ini. namun tiga! Medan yang ekstrem! Harus banyak dorong karena sekitar km 12 sudah harus melewati tanjakan dari ketinggian 130an ke 820an. Itu baru bukit yang pertama, di karangan trenggalek, lalu turun ke 60an mdpl.
Yang kedua di lorok pacitan dengan puncaknya di dekat PLTU Tambak Lorok. dari 63an m ke 250an m.
Yang ketiga sebelum masuk ke kota pacitan di daerah kebon agung. sudah tidak konsen lagi… liat ketinggian.
dilepas jam 7 pagi sampai pacitan menjelang maghrib. total jarak sekitar 125 km.
*Gussur
Etape II, Malang - Trenggalek
Jarak tempuh: kurleb 155
Waktu tempuh: kurleb 6 jam 05 menit (7.30 - 15.35)
“Balapan tenanan opo ora iki?” (Ini balapan beneran apa tidak?). Begitu komentar seorang bapak di pinggir jalan sesaat setelah Tim Jelajah Sepeda Sby-Jkt (JSSJ) meninggalkan tapal batas Kota Malang. Yah, tim saat itu memang sedang semangat2nya aku lihat. Kecepatan main di 25 - 29 kpj. Entah jalan menurun, atau entah karna sebelum dilepas rombongan disuguhi sexy dancer di pagi yang dingin setelah sehari sebelumnya dipertontonkan reog ponorogo di Surabaya.
Barisan beriringan rapi dan hanya tercerai berai saat tanjakan. Namun berbeda dengan tanjakan ke Malang yang panjang meski landai, tanjakan Malang - Blitar relatif pendek namun terjal. Alhasil peserta spesialisi jalan turun tidak bisa mengimbangi aksi spesialis segala medan. Dan sepertinya sudah ada tugas masing2, para pusher (istilah untuk penggowes tukang dorong) pun langsung mendekati pasangannya dan mendorongnya sampai akhir tanjakan. Oleh sebab itu, rombongan pun berhenti di Bendungan Karangkates setelah menggowes sekitar 2 jam.
Dari Karangkates rombongan dibawa ke Waduk Lahor yang tak jauh dari Bendungan Karangkates. Entah apa maksudnya diambil jalan memutar ini. Yang jelas, turunan melandai yang berakhir di jembatan waduk langsung disambut tanjakan sampai bertemu dengan jalan raya utama yang menghubungkan Malang-Blitar. Kembali pusher dan pasangannya bercengkerama mencumbui tanjakan nan aduhai.
Perjalanan ke Blitar adalah perjalanan menuju ke oase. Jalanan yang sebenarnya turunan itu diselingi dengan tanjakan2 menantang. Terlebih lagi begitu sampai di Blitar tak segera ke rumah makan. Saya yang melihat di peta GPS bertanya2 kok rombongan dibawa berkeliling kota dan pada satu titik bertemu dengan jalur sewaktu masuk ke kota Blitar. Ternyata baru ketahuan bahwa patwal tidak tahu lokasi rumah makan. Ada yang berseloroh bahwa diputer2 karna waktu makan belum datang. Maklumlah, masuk Blitar waktu masih di bilangan sebelasan.Akibatnya, banyak peserta yang kalap dan membabi buta pesan makanan. Nafsu besar tenaga kurang … pesanan yang datang pun tak tertampung si pemesan. Yang gak pesan akhirnya main sikat. Di rumah makan lesehan President tak jauh dari makam Bung Karno sempat hujan dan membuat peserta berketetapan meski hujan perjalanan tetap lanjut.
Rute Blitar - Trenggalek ternyata tak separah yang diceritakan orang. Bahkan relatif datar dengan aspal mulus. Makanya kecepatan bisa dipanteng di angka 25 kpj. Sayangnya, cuaca sedikit tak bersahabat. Kemudian aturan dua-dua juga tak selalu terikuti sebab adanya rombongan penggembira yang bergerombol.
Akan tetapi meski relatif datar, namun karena beberapa sudah kecapekan aksi dorong-mendorong masih dilakukan juga.
Saat jarak sudah menembus angka 120-an beberapa peserta sudah bertanya-tanya masih seberapa jauh Trenggalek. Terlebih di depan barisan perbukitan nan indah sudah mempertontonkan keterjalannya. Beruntunglah bahwa ternyata Trenggalek tak harus dituju dengan mendaki sebab di antara bukit itu ada jalan mendatar untuk sampai Trenggalek. Hanya saja, kata penggembira yang berada di samping saya, bukit itu tetap harus ditaklukkan jika mau ke Pacitan.
Benarkah? Besok baru terjawab.
*Gussur, http://www.facebook.com/home.php#!/notes/gus-sur/jelajah-sepeda-sby-jkt-etape-ii-1/399479106862
‘Merajut Nusantara’ merupakan tema ulang tahun harian Kompas yang ke-45. Salah satu rangkaian kegiatan yang diadakan adalah jelajah sepeda dari Surabaya menuju Jakarta sejauh 1.100 km yang dibagi menjadi 11 etape. Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta beranggotakan 10 pembalap veteran Polygon, 10 perwakilan komunitas sepeda dari berbagai daerah dan 10 karyawan Kompas Gramedia yang tergabung dalam KGCyclist.
Melengkapi dokumentasi Jelang Jelajah Surabaya Jakarta, etape demi etape akan disajikan laporan dari KGCyclist yang tergabung dalam tim JSSJ.
Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta, Etape I
Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta (JSSJ) telah menyelesaikan etape pertamanya: Surabaya - Malang sejauh sekitar 90 km. Dimulai dari Gramedia Expo Surabaya - dengan upacara pelepasan oleh Saifullah Yusuf - dan berakhir di Hotel Sahid Montana Malang.
Separo perjalanan rombongan mengular dengan rapi karena selain dikawal oleh dua mobil patwal (Mazda 6 coy …) plus satu moge, juga karena jalanan relatif masih datar. Barulah pada pertengahan kedua karakter masing2 individu mulai keluar. Ada yang ingin menunjukkan kemampuannya, ada yang tertib di barisan, dan ada juga yang bermasalah dengan kakinya. Entah ketarik atau kram. Apalagi kalau bukan karna tanjakan yang pelan tapi pasti mulai menyambut rombongan. Malang memang terletak di ketinggian sekitar 500an mdpl. Sementara Surabaya ada di daerah pantai.
Istirahat di Warung Mbak Sri dengan menu nasi rawon rombongan melanjutkan perjalanan. Tanjakan landai menyambut sampai kemudian melewati jembatan layang memasuki Malang.
Di Malang terjadi sedikit keributan gara2 patwal salah memandu rombongan ke penginapan. Sama2 milik Sahid Hotel, namun yang dituju malah Griyadi Montana di daerah yang mengarah ke Batu. Padahal yang dimaksud adalah Montana dekat Tugu.
Ya sudah, terpaksa menggowes kembali dan tiba di Montana sekitar pukul 3 sore.
*Gussur, http://www.facebook.com/home.php#!/notes/gus-sur/jelajah-sepeda-sby-jkt-etape-i/399220466862
HAMPIR sebulan lagi menjelang Jelajah Surabaya-Jakarta terlaksana. Tim inti maupun penggembira sudah memulai latihan bersama dengan menu beragam. Berikut rekaman dari seorang KGCer, Max Agung yang dikirim ke milis internal KGC. Laporan dan foto-foto ramai di Facebook, (al:di album om Yusri Daeng).
Nah Biar terdokumentasi, kita pasang saja ya di sini.
Sukses dan tetap semangat !!
1. Latihan Bersama I, Minggu
Latihan gabungan perdana tim Jelajah Sepeda Surabaya-Jakarta 2010, Minggu (2/5)
diikuti Mas Gun, Mas Ari, Tisno, Gusur, Ato, Fredy, dan saya sendiri. Kami
berlatih bersama Marta cs, a.l Yadi, Udin, Dwi, dan seorang lagi yg lupa
namanya. Menu latihannya belajar soal cadence/RPM, mencari kesesuaian antara
putaran kaki dan pacu jantung agar didapat irama kayuhan yang paling efisien.
Kami melahap rute Tanah Abang-Pondok Kopi menyusuri Casablanca dengan kecepatan
konstan 22-25 km/jam di jalanan flat, mendaki, maupun turunan. Dalam dua jam
kami dapat empat rit sejauh 50 km dan ditutup dengan sate kambing di
Pejompongan.
Latihan seperti ini sebelum menghadapi suatu kegiatan besar tentu saja sangat
menyenangkan. Apa yg selama ini mgk kita tahu secara teori, mendapatkan
penjelasannya dalam praktik. Selain itu suasana kerjasama tim dapat terbangun
sejak awal.
Lama gowes 2 jam nonstop dgn kec rata-rata 22 km/jam. lucu juga ketemu om-om pake
giant melesat kencang nyalip tim di jalan flat tapi di tanjakan flyover selalu
tertangkap lagi dan kita bisa nyengir ngliat dia ngos-ngosan dah dengan gigi
paling ringan..
Jadi berasa bedanya genjot modal otot/dengkul yg gak akan tahan
lama dgn kalo kita main RPM/cadence…dgn RPM memang jadi lebih efisien sih
genjotnya, khususnya buat genjot jarak jauh..
Ke depan, ada baiknya latihan lebih pagi, jam 6.00 gitu?
Sayangnya belum semua calon anggota tim bisa hadir. Semoga latihan-latihan
berikutnya kita bisa kumpul lengkap. Tabik !!
2. Latihan Bersama II, Minggu (9/5)
Minggu (9/5) seperti biasa kami memulai latihan gabungan untuk persiapan Jelajah
Sepeda Surabaya-Jakarta. Kali ini lebih meriah, selain Marta cs (5 org), ada 12
KGC yang ikut latihan, ditambah 4 anak bike to school. Anak B2S ini juga
persiapan turing Semarang-Solo-Jogja.
Kami melahap rute Palmerah-Semplak-Palmerah sepanjang 90 kilometer dengan
kecepatan rata-rata 22 km/jam. Temanya masih sama dengan minggu lalu, latihan
RPM/cadence utk mencapai irama kayuhan yang efisien. Bahan bakarnya juga masih
sama spt minggu lalu, sate kambing! Wkt kami datang kambingnya bahkan baru
dikuliti hihihiii….
Karena latihan sampai lewat tengah hari, kami mulai
merasakan kehangatan saudara matahari yang nanti akan menemani hari-hari kami di
jalan raya..rasanya setiap kayuhan, setiap peluh yang menetes, mulai bercerita
soal mengapa kami mau menjalani tirakat 1.100 kilometer diatas
sepeda…sekurangnya saya sendiri gak bisa berhenti memikirkan perjalanan yg
pernah menjadi mimpi masa kanak-kanak dulu…hehehe..:)
3. Latihan Bersama I, Minggu (16 Mei 2010)
T
anjakan panjang, hujan deras, petir, dan angin kencang mewarnai perjalanan
latihan gabungan ketiga tim jelajah sepeda surabaya-jakarta, Minggu (16/5).
Bonus tambahan itu kami dapat tepat di penghujung latihan, menjelang finis di
rumah Mas AH di Sentul City. Dari Palmerah kami tempuh perjalanan 57,7 kilometer
dengan kecepatan konstan 22 km/jam selama kurang lebih tiga jam. Kami sempat
berhenti sebentar di Depok stl jalan 25,5 kilometer. cuaca mendung di sepanjang
jalan berubah menjadi ekstrem di akhir perjalanan.
Sungguh, hujan angin dan petir itu kawan bersepeda yang menyenangkan sekaligus menggetarkan.
Dr palmerah ke sentul, irama perjalanan relatif konstan, tim berjalan dalam
rombongan utuh. Saat memasuki tanjakan panjang (4 km) menuju Taman Budaya,
barulah tim tercerai berai meski jaraknya gak terlalu berjauhan.
Kemampuan tiap orang menghadapi tanjakan berbeda, tp plg tidak sdh ada keseragaman utk belajar
mengandalkan irama jantung yang mengimbangi kayuhan..3 kali latihan membiasakan
diri berjalan konstan dalam tim mulai terasa efeknya…jd lbh terbiasa gowes
dengan teratur..kemarin, rasa lelah dan dingin pun terbayar oleh keramahtamahan
tuan rumah yg menyuguhkan sate kiloan dan sop kambing yg segaarrrrrr…apalagi
ada acara cuci piring rame-rame…
Senang dan bangga lihat perkebangan anggota KGC sekarang. Bukan hanya soal jumlah yang terus bertambah, motivasi untuk mengaktualkan diri lewat sepeda makin beragam.
Dulu sebagian besar teman2 KGC main sepeda sekadar hobi. Menyalurkan hobi biar sehat, tambah kawan, hemat (yang melakukan b2w ke kantor), dan juga sedikit memacu andrenalin.
Tak heran, kegiatan pun lebih banyak hura-hura. Ikut fun bike, ngoproad, kulineran setelah bubaran pabrik, atau gowes bareng ke kantor.
Karena kegiatan yang hura-hura itu, kalo toh mau ngoprod, pilihannya juga trek yang santai-santai saja. Pernah sih, beberapa anggota KGC ikut offroad yang treknya benar-benar menyiksa. Tapi biasanya lantaran jadi korban jebakan. Hahahahaha. Jadi inget trek Cijambe yang bikin tele-tele.
Tapi kini ceritanya lain lagi. Trek tanjakan seolah jadi trek favorit sebagian anggota KGC. Pondok Pemburu, Trek Sentul, salah satu contohnya. Entah berapa kali KGC punya hajat menaklukkan trek ini. Bahkan saat Jambore pun, diselipin acara nanjak ke Warung Bandrek, Bandung. Hebat!
Apakah nanti akan muncul aliran nanjak di KGC? Lihat saja. Yang jelas, trek nanjak memang bagus untuk melatih stamina, mengatur kekuatan dan yang penting, ada kepuasan tersendiri jika mampu melewati.
Ya, sebenarnya aliran nanjak bukan barang baru. Di Indonesia sudah ada komunitas 1PDN yang anggotanya memang penggowes yang doyan jalan nanjak. Dan ada kebanggan tersendiri bisa masuk di komunitas ini.
Selain pilihan trek yang tak lagi “mengharamkan” tanjakan, kini juga terlihat KGC mulai ambil bagian di setiap kompetisi. Diawali dari BSD Kriterium beberapa waktu lalu. Meski tak dapat nomor, tapi keikutsertaan beberapa anggota KGC ini cukup jadi pengalaman tersendiri.
Sentul Race juga jadi ajang salah satu anggota KGC. Ternyata di ajang ini KGC mulai bisa unjuk gigi. Target masuk 10 besar sudah tercapai, bahkan melampaui. Bisa jadi, prestasi Kang Gun ini jadi pengobar semangat teman-temannya ikut kompetisi.
Terbukti race di Delta Mas, yang ikut mulai bertambah. Sayang mereka harus bersaing dengan atlet sepeda kelas atas. Mungkin kalau ada kelas eksekutif, ceritanya bakal lain.
JPG Race mendatang bisa jadi akan jadi sarana unjuk gigi KGC berikutnya. Meski sampai saat ini belum kelihatan siapa saja yang mau berpartisipasi, tapi rasanya ada beberapa anggota KGC yang akan berlaga.
Ya, kini anggota KGC tak sekadar berhura-hura. Mereka juga ingin jadi jawara sepeda. Ya, itu tandanya KGC makin berkembang.
Para pelaku B2W tentu punya mimpi, Jakarta bunya bike line. Tapi kapan mimpi itu jadi kenyataan? Hmmmm…susah menjawabnya. Beberapa kali membaca berita soal bike line, saya makin pesimis pemerintah Jakarta akan memenuhi janjinya membuat bike line yang sejak dulu dituntut para karyawan bersepeda.
Ada saja dalih dari penguasa yang mengklaim dirinya ahli menata Jakarta. Mulai menunggu pesepeda sampai satu juta hingga alasan-alasan lain yang sebenarnya bertujuan untuk mengulur-ulur waktu hingga janji itu terlupakan. Kalau disediakan jalurnya dulu, pasti akan makin banyak pemakai transportasi ramah lingkungan ini. Wong tak ada jalurnya saja, makin lama makin banyak kok, yang ke kantor naik sepeda.
Mungkin bagi pemerintah kota, sepeda tak ada nilai ekonomisnya. Lantaran kereta angin ini tidak dikenai pajak yang bisa menambah kocek pendapatan negara. Kenapa mereka tidak berpikir terbalik ya? Berapa nilai yang dihemat jika ada satu karyawan bersepeda ke kantor, baik penghematan BBM, pengurangan polusi, dan biaya kesehatan? Tapi yang lebih penting, kalau kondisi Jakarta dibiarkan seperti sekarang ini, bisa dibayangkan, bagaimana lalu lintas Jakarta 5 tahun mendatang? Anda pasti bisa menebaknya.
Ya, peradaban kota Jakarta pelan-pelan telah dihancurkan. Mobil dan sepeda motor tak dibatasi. Pohon ditebang, Ruang Tata Hijau disulap jadi mall dengan dalih kebutuan mal di Jakarta masih kurang, makam dijadikan hotel, situ diurug, taman kota kian sempit. Jalur sepeda? silakan cari di hutan saja……