Di terowongan persembunyian, pada dinding tinggi terdapat tulisan yang membuat bulu kuduk berdiri: “Ruang Pembantaian”.
Kami langsung bergidik. Sereeemm……
Ruang Pembantaian merupakan ujung terowongan, yang setelah kami susuri ternyata menuju pantai. Sebelum turun menuju pantai, ada meriam yang dulu digunakan Belanda untuk menghalau pejuang kemerdekaan. Pemandangan dari meriam ini memang langsung menghadap ke lautan terbuka….
Kalo mau baca seberapa merindingnya, silakan saja klik, baca selanjutnya artikel Om Gusur dan KGC (Kelompok Gowes Cilacap) di Bukan Koran Kompas… ha..ha
Sudah lama, KGC berencana offroad bersama sebagai pembuka tahun 2010. Namun karena KGCers–yang jujur, baik hati dan tidak sombong– sangatlah susah mencari waktu, saking rajinnya bekerja. Akhirnya, dengan niat baik jadi juga kami ber-17 orang berangkat untuk mencumbui trek Telagawarna-Curugpanjang yang katanya menyenangkan itu.Begitulah, kami berangkat bersama dari Palmerah Jakarta Pusat. Sepeda diangkut dengan truk ekspedisi dan penumpangnya saling menumpuk di kendaraan yang ada. Prama, rekan KGC, berjanji bertemu di Sarimande, mulut tol Ciawi.
Sampai di lokasi sudah termasuk telat sebab kena macet sebelum pasar Cisarua. Setelah loading dan ngrakit sepeda, 17 KGCers berdoa dipimpin Abah Ush. Track aspal menanjak langsung menyambut kami. Fami — KGCers multitaskingman: mekanik, RC maupun sweeper– menjadi RCsampai SD Cikoneng. Read the rest of this entry »
AHIRNYA, Sabtu (26/12) terkumpul juga enam KGCers di Jalur Pipa Gas alias JPG: saya Gusur, Cak Kris, Dimas, Krisna, Gun, Yusri, dan Gusur plus dua teman Cak Kris.
Jam 7 pagi lempeng dikit, kami meninggalkan Mpok Cafe menuju trek legendaris: Cihuni. Sudah beberapa kali, kami ke trek ini, dan tidak pernah bosan untuk mendatanginya. Apalagi trek ini mudah dijangkau dari mana pun. Biasanya goweser, berkumpul dulu di Mpok Cafe sebagai meeting point. Ada juga yang pemanasan dulu di trek JPG. Nah, dari sini selanjutnya kita bisa meneruskan perjalanan ke trek Cihuni menjelang siangan dikit.
Sabtu pagi kemarin, cuaca sangat mendukung sehingga gowesan RC - Krisna dan Dimas - amatlahkenceng. Alhasil saya pun enggak bisa motret-motret aksi mereka dengan leluasa. Saking kencengnya, kamera saya tidak sempat menangkap gerakan mereka. Wusss…..menembus jalan Serpong yang ada tugu BSD menuju ke gethek. Lhaa… ???*(&^… Sayang, tidak sempat dikonfirmasi, apakahkencengnya gowesaan mereka itu karena kebelet ingin naik gethek, ibarat anak-anak di kampung kebelet naeuik odhong-odhong….:)
BUKAN diskusi baru lagi, jika soal parkiran sepeda di mall, hotel, tempat belanja, maupun perkantoran masih dianggap barang mewah.
Pengalaman Mas Nugroho dari KGC bisa jadi bukan pula yang pertama.
Jadi bagaimana Mas, pengalamanmu membawa sepeda ke sebuah hotel?
Begini ceritanya, :
“Tadi siang (16/9) saya dengar kabar dari Ketua B2W Mas Toto Sugito bahwa Menristek Pak KK sudah bicara dengan pemilik Hotel Mulia dan hasilnya adalah pihak Hotel Mulia akan membuatkan parkiran sepeda yang insya Allah diresmikan 4 Oktober 2009.. Saya tentu saja gembira betul dengan kabar itu… Mas Toto malah lewat SMS bilang kekecewaan yang lalu akan terbayar…
Semoga saja benar kabar itu… Apalagi hari Minggu lalu (15/9), saya lagi-lagi mendapat pengalaman kurang enak di hotel itu.. Hari Sabtu lalu saya bersama istri dan dua anak saya menginap di Hotel Mulia.
Dari segi lokasi, hotel itu strategis, karena Saya dan keluarga memang berniat gowes dan bermain-main di seputar Senayan..
Ketika datang ke hotel, saya membawa tiga sepeda di mobil, satu sepeda tandem dan dua sepeda lipat.. Sampai di depan lobby hotel, semua sepeda diturunkan bersama koper dan tas bawaan keluarga.. Koper dan tas saya bawa langsung ke kamar, sedangkan sepeda saya titipkan di tempat penitipan barang di depan lobby hotel.
MEMENUHI undangan SaCyC yang berulangtahun ketiga, Sabtu, 25 Juli 2009 untik gowes bareng ek Cianten, Leuwiliang Banten, akhirnya KGCers yang berangkat saya, Mas Pung, Supri, Yusri, Mas Paulus, dan Kang Ush bersama Tahucocol,
Start dari komplek Arco Sawangan, pukul 7-an sampai di Karacak tempat finish trek pukul 10-an. Butuh 1 jaman untuk sampai ke start trek yang berjarak sekitar 20 km dari Karacak
dengan jalan menanjak. Sepeda dan penunggangnya sama-sama diangkut pick-up. Jalanan menanjak dan meliuk-liuk sempat membuat seorang peserta mual dan “nembak” oekk..oek..
Saat menuju start trek di kebun teh Cianten tanda-tan hujan sudah mulai. Akhirnya hujan memang turun beneran. Seperti ditumpahkan dari ember.
Namun pemandangan yang memikat tak menyurutkan sekitar 70-an goweser. Kami langsung berangkat ditemani hujan cukup deras. Langsung disapa jalan menanjak dan menurun
di kebun teh sebelum akhirnya masuk ke kawasan pabrik teh.
Di sini ada ransum makan siang sebab memang waktunya makan siang. Boleh pilih menu ayam goreng kremes atau ikan mas bumbu kuning he..he Read the rest of this entry »
Kita–Tim TI Kompas– jadi dong oproad kecil2an di puncak, walaupun setengahnya doang. 20-21 Juli 2009 (Minggu/Senen) kita ada acara outing di puncak. Senin pagi acaranya adalah tea walk dari penginapan (puri anindita) ke gunung mas. Selain biar jalan sehat, ternyata bus besar memang tidak bisa masuk ke lokasi. Jadi temen2 balik ke Jakarta memang dari gunung mas.
Sementara yang laen langsung balik ke Jakarta, jam 9 kami bertuju (kayak ben 7 aja) nerusin sepedaan dari gunung mas. Sempat panic ketika merakit sepeda (yg sudah disimpan di gudang kantor gunung mas) ternyata baut quick release salah satu sepeda ilang waktu di transport. Coba cari2 pertolongan ke mas didit u/ cari bengkel sepeda terdekat gagal (lebih tepatnya gak diangkat L).
Ilmu McGyver nongol deh, baut diganti dengan hasil mreteli lampu kucing. (Hoooii…!!!!!bahaya!! SAFETY FIRST !) Read the rest of this entry »
JUMAT (22/5) pagi pekan lalu, kantor baru saja hendak beroperasi, datanglah seorang lady biker ke kantor saya. Ia dari rumah, di Petukangan, menuju kantornya di Matraman. Seminggu rata-rata 3 kali gowes to work, dan pagi itu sepedanya kena masalah. Tidak ingin terganggu masuk kerja, kebetulan ia pernah mendapat info dari seseorang… yg lalu entah bagaimana pangkal mulanya, hingga output di ujungnya bisa berbunyi menjadi:
“Mau ketemu sama orang bengkel sepedanya, Mbak… Pak Nugroho namanya.”
Urutan registry di benak si penerima tamu adalah:
1. Apakah betul ada bengkel sepeda di Palmerah Selatan
2. Bila pun ada, apakah betul tukang bengkel sepedanya bernama Nugroho
3. Bila pun si tukang bengkel sepeda bernama Nugroho, apakah ini “Nugroho” yg “Nugroho” boss-nya.
Hasilnya, in total:
Tidak ada bengkel sepeda di Palmerah Selatan, dan “Nugroho” terdekat yg dikenal selama ini paling tidak memang tidak pernah mengaku kalau (juga) berprofesi sebagai tukang/pemilik bengkel sepeda.
Tapi lha wong secara aturan kerja yg namanya tamu harus mendapat pelayanan selayak-layaknya, maka sang Lady Biker pun diminta menunggu sebentar sementara pertolongan darurat dicarikan agar ia tidak harus sampai bolos kerja. Tentu saja ia jadi tersipu tidak enak karena sudah serius menganggap “ada bengkel di Palmerah Selatan, yg pemiliknya bernama Pak Nugroho”.
Sayangnya, mungkin karena kesibukan kerja, kisah ini baru bisa disampaikan kepada Nugroho Himself di hari Senin kemudiannya.
Tidak ada foto dokumentasi — apalagi yg bernilai jurnalistik — dijepretkan Jumat pagi itu. Tapi kisah ini nyata. Bukan fiksi. :))